Captiva 2.0 VDCi: Solar

PT General Motors Autoworld Indonesia meluncurkan Captiva 2.0 liter VDCi bermesin diesel dengan teknologi common rail yang tidak manja, bisa menenggak solar lokal di seluruh Indonesia. GM menggambarkan Captiva diesel sebagai SUV keluarga yang bertenaga, responsif dan halus.

Secara fisik, tidak ada perbedaan signifikan dengan versi bensin, kecuali mesin dan emblem VCDi dipintu depan. Mesin yang dipakai adalah generasi baru diesel dengan kombinasi teknologi common rail, direct injection, variabel turbine geometry. Hasilnya mesin bisa memproduksi daya maksimal 150hp/4000rpm dan torsi 320Nm/2000rpm. Sebagai pembanding Captiva bensin 2.4 liter (144ps/220Nm), Ford Everest 2.5 liter (110ps/27.3kgm) dan Toyota Fortuner 2.5 liter (102 ps/ 26.5kgm). Pada Fortuner, torsi puncak di dapat lebih dulu yaitu 1600rpm.


F.A Suwadji Wirjono, after sales directorPT GMAWI mengatakan, kurva torsi puncak Captiva diesel merentang antara 2000-3200rpm. “Jadi pengemudi mendapat torsi puncak pada rentang lebar dan pada putaran mesin yang sering dipakai,” jelasnya usai peluncuran model ini di Jakarta Selatan, Rabu (16/4). Kurva torsi ini memang jadi kelebihan mesin diesel modern. Tidak seperti bensin dimana torsi puncak hanya pada satu titik putaran tertentu saja, pada diesel moderen rentangnya lebih lebar sehinggga mobil terasa lebih responsif dan lincah, bahkan diputaran rendah.

Mesin diesel ini menggunakan teknologi common rail generasi kedua dengan tekanan 1600bar. Ini jauh dari diesel lain yang biasanya 200psi. Artinya solar yang dialirkan lewat common rail tekannya ditingkatkan hingga 1600bar atau 1600 kali tekanan atmosfer. Dengan tekanan sebesar itu diharapkan bahan bakar yang disemprotkan injector ke dalam ruang bakar dalam bentuk yan sangat halus/kabut (lobang injektor ukuranya 0.02mm) sehingga terjadi pembakaran sempurna. Menurut Bosch dalam situsnya -pemasok sistem common-rail Captiva- teknologi ini membuat mesin diesel lebih bersih emisinya, lebih ekonomis, lebih bertenaga dan tidak berisik.

Prinsip kapal layar

Sistem pasokan bahan bakar itu tidak akan menghasilkan pengapian yang sempurna bila tidak dikombinasikan dengan sistem pasokan oksigen yang mumpuni pula. Captiva diesel menggunakan turbo dengan fitur variable turbine geometry. Seperti diketahui pemasangan turbo bertujuan meningkatkan konsentrasi oksigen yang masuk keruang bakar. Kebutuhan oksigen meningkat pada putaran mesin tinggi, “Bayangkan, pada putaran mesin 6000rpm, satu siklus pembakaran hanya butuh waktu 0.02 detik. Dan itu harus sempurna, mulai dari langkah hisap, kompresi, ekspansi dan buang,” kata Suwadji lagi. “Agar sempurna, satu-satunya cara ya udara dipaksa masuk,” tambahnya.

Pada turbo biasa, putaran kompressor bersifat linier sesuai besarnya tekanan gas buang yang memutar bilah turbin. Jadi bila tekanan gas tinggi, putaran kompressor juga tinggi, demikian sebaliknya. Pada Variable turbine turbo, sudut bilah turbin dirubah sedemikian rupa sehingga dengan tekanan gas buang yang sama bisa memutar bilah kompressor lebih cepat lagi. “Analoginya seperti layar perahu. Semakin besar layar, semakin kencang perahunya,” kata Suwadji.

Yang mengatur besarnya sudut bilah turbin adalah Electronic Control Modul, otak sistem mobil, bergantung pada kecepatan dan beban mobil. Jadi bisa saja pada kecepatan tinggi, putaran mesin tinggi, bilah justru ditutup karena saat itu sedang melewati jalan turun dengan hanya satu penumpang saja. Sebaliknya, pada beban berat, sudut bilah turbin bisa dibuka lebar untuk memanfaatkan semaksimal mungkin gas buang yang ada untuk memutar kompressor agar terjadi pembakaran sempurna untuk mendapat tenaga tambahan.

Harmonisasi kerja pasokan bahan bakar dan udara menghasilkan pembakaran sempurna. Mesin lebih bertenaga, lebih responsif dan emisi jelaga ditekan. Guna meredam efek getaran mesin diesel dan suara berisik GM memasang engine balancer dan dual mass flywheel.
Resiko pakai solar

Kembali soal bahan bakar, sistem canggih ini idealnya mendapat bahan bakar yang memiliki kandungan sulfur rendah. Karena kandungan sulfur yang tinggi seperti solar, sering menyebabkan injector buntu. Injector yang buntu menyebabkan pengapian tidak sempurna dan mesin jadi timpang. Penggunaan solar biasa juga menurunkan peforma mesin dengan kata lain puncak tenaga dan torsi akan lebih rendah dari kondisi normal. Demikian pula dengan emisi yang disemburkan. Ini karena kandungan sulfur lebih tinggi dan angka cetane (mengindikasikan kalori yang terkandung pada bahan bakar) lebih rendah.

GMAWI, berani menjamin Captiva Diesel ok saja dengan solar lokal. Ini berdasarkan pengalaman menggunakan pickup Chevrolet Colorado diesel di Indonesia sejak Mei 2007. Colorado memiliki mesin diesel dengan teknologi serupa, hanya saja kapasitasnya lebih besar, 2.5 liter. Colorado ini telah di uji coba dengan aneka jenis solar seluruh Indonesia. GMAWI sendiri baru saja menguji Captive diesel sekitar 5000km dari target 50,000km. Berdasarkan pengalaman dengan Colorado, mesin diesel itu tidak mengalami masalah berarti.

Tapi sebagai langkah antisipatif, GMWI menyiapkan tindakan khusus. Setiap 15,000km injector akan dibersihkan dari sisa pembakaran. Membersihkannya dengan menggunakan gelombang ultrasonic. Lalu di uji pada alat khusus untuk mengetahui kualitas semprotan apakah sudah memenuhi standar. Filter bahan bakar juga diganti tiap 15,000km. Sedangkan tangki akan dibersihkan tiap 30,000km. “Ini bukan perbaikan, tapi langkah antisipatif.Mesinnya sih ngak rusak,” kata Suwadji lagi.

~ by The Owner on May 22, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: